Haul KH. Muzajjad ke-52 : Mengalirkan Barokah, Menjaga Jejak Ulama Multidimensi
Pati, 31 Juli 2025 — Haul ke-52 KH. Muzajjad digelar dengan khidmat dan penuh makna di kompleks Pondok Pesantren Djannatul Huda (PPDH) di Pati, Jawa Tengah. Acara ini tak hanya didedikasikan bagi sang kyai karismatik, tetapi juga untuk para tokoh keluarga besar pesantren yang telah wafat: KH. Rozi (ayah KH. Muzajjad), Nyai Hj. Muzaenab (isteri KH. Muzajjad), KH. Mudzakir (adik KH. Muzajjad), KH. Munawwir (adik ipar KH. Muzajjad/ayah KH. Masrur), KH. Masrur Munawwir, serta KH. Asyharul Huda—para penerus dan pengasuh Pondok Pesantren Djannatul Huda (PPDH) yang telah turut membesarkan nama pesantren di tingkat lokal maupun nasional. Sekaran pengasuh PPDH dilanjutkan oleh Muhammad Atho’illah Habibi (putra Kyai Asyharul Huda/cucu keponakan KH. Masrur Munawwir.

Gus M. Athoillah Habibi, kedua dari kiri, pengasuh pondok PPDH di antara para alumni – dokumen pribadi
Rangkaian Acara Selama Dua Hari
Kegiatan haul dimulai sejak Rabu malam, 30 Juli 2025 pukul 19.00 dengan tahtimul Qur’an binnadhor (qira’atul Qur’an) yang diikuti oleh para santri, alumni, dan masyarakat umum. Suasana haru dan harap menyelimuti malam pembuka, ditandai dengan lantunan ayat-ayat suci yang mengalir dari hati para pecinta Al-Qur’an.

Tahtimul-Qur’an binnadhor (dokumen pribadi)
Keesokan harinya, Kamis pagi, 31 Juli, kegiatan dilanjutkan dengan tahtimul Qur’an bil-ghoib (tahfidzul Qur’an) mulai pukul 07.00. Menyusul pada pukul 09.00, dua agenda berlangsung serentak: tahlil oleh siswa-siswi Madrasah Khoiriyah dan madrasah I’anatut Thalibin di makam KH. Muzajjad, serta peluncuran dan bedah buku biografi KH. Muzajjad berjudul Cahaya Multidimensi Sang Kyai Inspiratif yang ditulis oleh Ali Mustahib Elyas.

(Sumber foto: dokumen pribadi)
Bedah Buku dan Tahlil Umum
Dalam sesi bedah buku yang berlangsung hangat, penulis menuturkan bahwa KH. Muzajjad adalah sosok ulama yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keteladanan hidup, khususnya tentang kesederhanaan, kedermawanan, dan kemandirian. Buku tersebut disusun sebagai upaya menjaga kesinambungan sejarah dan mengenalkan sosok sang kyai kepada generasi muda. Kesinambungan sejarah yang terjadi di masa lalu, masa hidup KH. Muzajjad, dan demi mencapai sejarah di masa depan yang lebih baik.

(sumber foto: dokumen pribadi)

(sumber foto: dokumen pribadi)
Pukul 13.00 siang, dilangsungkan tahlil umum bersama alumni dan warga, yang memadati area makam dalam suasana haru dan kekhusyukan.
Pengajian Umum dan Sentilan Penuh Humor
Puncak haul berlangsung pukul 14.00–15.00 dengan pengajian umum yang disampaikan oleh KH. M. Syarofuddin Ismail Qoimaz dari Rembang. Dalam ceramahnya yang diselingi humor segar, beliau mengajak hadirin untuk tidak melupakan jasa para ulama, khususnya KH. Muzajjad yang diperingati hari wafatnya hari ini.

Suasana pengajian umum di halaman PPDH – dokumen pribadi
“Kyai seperti beliau itu ibarat bunga yang penuh madu. Banyak tawon/lebah datang menyerapnya karena ada manfaatnya. Bukan seperti bunga plastik di depan saya ini. Indah tapi tak mengundang tawon/lebah. Orang yang datang ke kyai plastik, berarti lebih bodoh dari tawon/lebah,” ujar KH. Syarofuddin, disambut tawa hadirin.
Beliau juga menyindir fenomena kyai “musiman” yang hanya ramai saat menjelang pilkada, namun menyampaikan dengan gaya khasnya yang santai dan menghibur. “Saya sendiri tidak menolak kalau diundang kampanye,” tambahnya sambil tersenyum, “tapi nanti saat pidato saya nyanyi saja lagu Perdamaian karya Kyai Bukhori (Nasidaria.)”
KH. Syarofuddin juga menekankan pentingnya haul sebagai momentum mengingat kematian dan ngalap barokah dari para alim ulama, agar hidup tetap terarah dan penuh berkah.
Kesaksian Santri Senior
Sebelumnya, KH. Ali Masyhudi, salah satu santri senior PPDH, dalam sambutannya mengenang masa-masa saat masih nyantri pada KH. Muzajjad. Ia menyampaikan betapa besar perhatian sang kyai kepada para santri, termasuk dalam hal pendidikan dan kebutuhan hidup. Ia mengaku dahulu banyak dibantu oleh KH. Muzajjad. Beliau sangat dermawan dan peduli pada semua santri. Untuk itu ia merasa bersyukur atas terbitnya buku biografi KH. Muzajjad, karena dapat menjadi inspirasi dan referensi bagi generasi muda tentang keteladanan sang kyai.

KH. Ali Masyhudi, kiri, alumni senior PPDH – dokumen pribadi
Kalau kita tidak mengenang perjuangan para ulama, kita akan mudah melupakan akar sejarah yang membentuk kita. Peringatan haul seperti ini penting agar sejarah masa lalu menyatu dengan kehidupan hari ini, demi masa depan yang lebih baik.
Menjaga Warisan Ilmu dan Barokah
Haul ini kembali menegaskan bahwa KH. Muzajjad bukan hanya sosok ulama, tetapi juga simbol ketekunan, kepedulian, dan pengabdian. Melalui acara ini, pesan-pesan moral, spiritual, dan historis kembali digaungkan. Generasi muda diharapkan bisa meneladani semangat dan perjuangannya.
Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap para ulama, haul ke-52 ini menjadi pengingat bahwa warisan terbesar seorang ulama bukan sekadar nama, tapi nilai dan ilmu yang terus hidup dalam hati umat.
